Apa yang anda lakukan ketika akan ULANG TAHUN? Apa yang anda siapkan pada saat ulang tahun? Kebanyakan dari kita memperingati hari kelahiran dengan sebuah acara yang bersifat perayaan (Celebration). Sebuah kue tart yang dihias dengan berbagai macam dekorasi, dan tak ketinggalan beberapa batang lilin sejumlah usia, atau lebih praktis lagi pakai lilin dengan bentuk angka. Biasanya acara tersebut akan dimeriahkan bersama keluarga, teman, sahabat, dan undangan lainnya.
Ada juga yang merayakan ulang tahun dengan berbagi kebahagiaan bersama orang-orang yang dianggap kurang beruntung, misal dari panti asuhan. Tetapi bagi saya yang paling penting ketika seseorang ulang tahun adalah ada tidaknya kesadaran dalam dirinya akan manfaat usia yang telah dicapai. Sebuah evaluasi diri dilakukan untuk membaca apa yang telah dilakukan, dimana posisi sekarang, dan apa yang akan dicapai kedepan. Ibarat seorang nakhoda kapal bagi dirinya sendiri, tentu saja harus tetap menjaga kapal lurus mengarah pada tujuan. Menurut Bapakku yang pelaut (sampai saat ini diusianya yang menjelang 60 tahun masih berlayar), kapten kapal akan selalu mengecek arah dan posisi kapal untuk memastikan kapal berada pada jalur yang benar. Demikian juga dengan hidup ini.
Setiap orang pasti memiliki tujuan jangka panjang yaitu kampung akhirat. Tujuan jangka menengah seperti menikah, lulus kuliah, kerja, dan sebagainya. Serta tujuan jangka pendek, seperti beli notebook baru dan seterusnya. Evaluasi diri sangat diperlukan bukan hanya agar dapat memastikan capaian yang telah didapat, tetapi juga sebagai refleksi diri pada pemaknaan hidup itu sendiri.
Berapa banyak diantara kita yang sering kali bosan, hidup hampa, dan tak tahu apa yang harus dilakukan. Jika itu terjadi pada diri anda, berarti anda harus mendefinisikan tujuan dan arti hidup yang sebenarnya. Lalu apakah setiap orang akan mengalami hal yang sama pada setiap tahapan-tahapan usianya? Tentu saja antara anak usia 8 tahun dengan remaja 18 tahun akan berbeda pemaknaan pada hidupnya. Anak usia 8 tahun mungkin hanya berfikir bagaimana dia bisa melewati semua tugas sekolahnya, mendapatkan hadiah dari orang tuanya, dan tujuan jangka pendek lainnya yang bersifat materi. Sedangkan remaja usia akan lebih fokus pada bagaimana memperbaiki penampilannya, bagaimana dirinya dianggap sudah layak untuk mendapatkan pacar, dan seterusnya. Bagaimana anda yang berusia 25, 30, 35, 40, dan seterusnya?
Mencontoh Tahapan Usia Rasulullah Muhammad SAW
Coba kita kilas balik perjalanan Nabi Muhammad Saw dalam setiap pencapaian berdasarkan usia. Saya yakin bahwa semua tahapan pencapaian berdasarkan usia yang dialami oleh Nabi Muhammad merupakan standard bagi ummatnya. Sehingga saya dan anda bisa jadikan refleksi seberapa tepatkan perkembangan diri kita baik secara psikologi maupun spiritual. Ingat bahwa seseorang dikatakan dewasa bukan hanya dari pencapaian usianya, tetapi juga dari prilaku dan kematangan jiwanya. Jangan sampai saya dan anda tidak bertindak sesuai dengan usianya. Orang besar yang kekanak-kanakan, atau anak kecil yang sok dewasa. Berdasarkan buku “Sejarah Hidup Muhammad” yang ditulis oleh Muhammad Husain Haekal dapat dipetakan sebagai berikut:
- 0 tahun - Lahir bulan Agustus 570 M.
- 3 tahun - Peristiwa pembedahan ‘dada’ oleh malaikat.
- 12 tahun - berdagang ikut pamannya Abu Thalib (masa remaja juga mengembala kambing).
- 15-20 tahun - ikut perang suku/kabilah (Al-Fijr).
- 25 tahun - menikahi Khadijah.
- 35 tahun - menjadi Problem Solver (peletakan hajar aswad di Ka’bah) dan bergelar Al-Amin (orang yang dipercaya).
- 35-40 tahun - menjauhi keramaian / menyendiri untuk Tahannuf.
- 40 tahun - turunnya wahyu pertama sebagai tanda kenabian (610 M).
- 51 tahun - puncak pencapaian spiritual tertinggi dalam peristiwa Isro’-Mi’roj (621 M).
- 52 tahun - hijrah ke Yastrib / Madinah (622 M).
- 60 tahun - penaklukan kota Mekah (630 M).
- 62 tahun - wafatnya Nabi Muhammad Saw pada 13 Rabiulawal 11 H atau 8 Juni 632 M
Bagaimana dengan Saya dan Anda?
Hikmah dari tahapan perjalanan Nabi Muhammad tersebut tentu dapat dijadikan tolak ukur bagaimana perkembangan kedewasaan, kejiwaan, dan spiritual. Kita dapat melihat bagaimana Nabi Muhammad sudah mendapatkan pembelajaran akan arti tanggungjawab dengan menerima perkerjaan sebagai pengembala kambing pada masa anak-anak. Usia 12 tahun sudah diajari kewirausahaan (entrepreneurship) hingga usia 25 tahun sudah dapat memimpin kabilah dagang sendiri ke Syam (Iraq).
Nabi Muhammad menikah pada usia 25 tahun, dan Alhamdulillah saya juga persis menikah pada usia 25 sesuai dengan rencana yang saya buat sebelumnya. Pada usia ini, manusia sudah sangat mtang dari segi fisiologi dan boleh dikatakan dewasa untuk sanggup mengemban tanggungjawab membangun keluarga. Jadi peringatan bagi anda-anda sekalian yang sampai usia 25 tahun tidak juga menikah entah karena kurang berani, masih suka bermain-main, atau memang tidak ada keberanian. Mungkin ada baiknya anda introspeksi kembali motivasi hidup dan kesehatan jiwa anda.
Pada usia 35 tahun Nabi Muhammad terkenal dengan julukan Al-Amin atau orang yang dipercaya, bahkan sudah bisa berfikir dan bertindaks sebagai problem solver. Hal ini berarti pada usia 35 tahun kita dituntut untuk meningkatkan nilai kemaslahatan kita pada orang lain. Jiwa kepemimpinan dan humanisme kita sudah mencapai pada puncaknya. Pada usia 35 ini seharusnya bukan lagi berfikir untuk diri sendiri, dan sudah bisa meninggalkan dunia “canda-tawa” dan hidup jauh lebih serius.
Awal puncak kematangan spiritual Nabi Muhammad pada usia 40 tahun ketika pertama kali menerima wahyu dari Allah melalui perantara Malaikat Jibril. Melalui perenugan dan pembersihan diri dengan menyepi maka gelombang resonansi Nabi Muhammad dapat berkomunikasi dengan Malaikat Jibril. Jadi saya dan anda seharusnya sudah mencapai pemahaman yang tinggi akan hakikat kehidupan spiritual. Pada usia ini tidak ada lagi jiwa-jiwa hampa yang mengisi badan, karena pemahaman hakikat kehidupan sudah dicapai. Saya belum mencapai tahapan ini, dan insyallah jika diberi cukup umur untuk mencapainya. Jadi ada benarnya jika pepatah bilang “Life Begin at Forty”, tapi bagi saya itu pasti permulaan untuk menemukan cinta Allah.
Nabi Muhammad mencapai puncak tertinggi dalam pemaknaan hidup pada usia 52 tahun ketika dengan ijin Allah, mengadakan perjalan dari Masjidil Harom ke Masjidil Aqso, dan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha menghadap langsung pada Allah. Pencapaian spiritual yang tertinggi di alam semesta ini, melebihi malaikat sekalipun. Pada tahap ini seharusnya dunia dan segala isinya tidak lagi menjadi tujuan dan daya tarik. Tahapan ini juga belum saya lalui dan Insyallah jika dianugerahi umur yang panjang.
Puncak perjuangan Nabi Muhammad dicapai pada usia 60 tahun. Artinya sukses pencapaian perjuangan Nabi Muhammad ditempuh dalam waktu 20 tahun. Tidak masalah pada usia berapa anda akan sukses, yang penting berusaha dan berusaha walaupun anda pasti sudah menjadi kakek-kakek bukan? Nabi Muhammad akhirnya diwafatkan pada usia 62, itu artinya bahwa jika saya dan anda meninggal lebih dari usia tersebut berarti kita mendapatkan BONUS tambahan usia dari Allah untuk lebih memperbaiki diri hingga hingga akhirnya kita sampai ke tujuan berikutnya yaotu kampung akhirat. Apakah anda ingin diberi umur panjang melebihi pencapaian usia Nabi Muhammad? Oh kalau saya tidak. Berapapun usia yang Allah berikan kepada saya semoga cukup membawa manfaat dan bekal untuk menghantarkan saya ke kampung surga nantinya Amin… Insyaallah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar